Home / Sastra / Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

Sekilas Sejarah Masuknya Islam di Alam Melayu

Sepintas lalu telah disinggung teori tentang masuknya agama Islam di Alam Melayu menurut perspektif barat. Selain faktor perdagangan, ada beberapa faktor yang ramai dihipotesiskan para pakar tentang berkembangnya Islam di Alam Melayu (Nusantara). Faktor-faktor tersebut adalah (1) perkawinan campur antara orang Islam dan bukan Islam, (2) adanya persaingan antara Islam dan Kristen yang mempercepatkan penyebaran Islam, khususnya pada abad ke-16 dan ke-17 yang dicitakan sebagai terusan dari Perang Salib antara Islam dan Kristen, (3) kemudahan dan kepentingan politik yang dianggap sebagai motif atau sebab memeluk Islam, (4) penghargaan nilai ideologi Islam dianggap sebagai yang utama bagi pemeluknya, dan (5) faktor otoktoni atau keadaan yang dianggap telah ada sejak purbakala yang dimiliki atau sifat kebudayaan suatu masyarakat memiliki kesamaan dengan Islam (ajaran tasawuf).

Syed Naguib Al-Attas (1972) membantah teori tersebut karena menganggap kesemua faktor tersebut sebagai kesan luar sejarah sehingga kurang berimplikasi dalam penyebaran dan propoganda (membumikan) ajaran Islam secara meluas, merakyat, dan benar. Faktor-faktor tersebut dianggapnya kurang sahih dalam melihat proses Islamisasi di Nusantara. Faktor yang paling penting dalam Islamisasi sebenarnya adalah diperankan oleh bahasa dan sastra Melayu.

Bahasa Melayu mampu menjadi bahasa pengantar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat sehingga dengan mudah ajaran-ajaran Islam diterima dan disesuaikan. Bahasa Melayu sebagai medium mampu secara telus mengomunikasikan konsep Tuhan, manusia, dan alam sekitar dalam Islam kepada masyarakat Nusantara. Oleh karena itu, konsep-konsep Islam meresap dan berterima dengan mudah sehingga mampu mengubah cara berpikir masyarakat lokal dalam melihat wujud duniawi dan batiniah dengan baik.

Collins (1998) mencatat bahwa bahasa Melayu pada abad ke-16 merupakan bahasa resmi tulis yang digunakan di istana-istana dan dalam agama. Pada saat yang sama bahasa Melayu merupakan bahasa yang digunakan untuk menjalankan tugas sehari-hari, bahasa perdagangan, dan bahasa interaksi masyarakat di pasar dan pelabuhan. Pada waktu itu, bahasa Melayu memiliki fungsi dan kedudukan yang lebih dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang ada di Eropa.

Melalui bahasa Melayu ini banyak ditulis sastra-sastra kitab tentang ajaran Islam yang ditulis oleh ahli tasawuf Melayu dalam membumikan ajaran Islam. Melalui bahasa dan sastra Melayu ini pula para pendakwah dengan mudah menyebarkan Islam ke pelosok-pelosok Nusantara. Akan tetapi, tidak boleh juga dinafikan bahwa beberapa faktor luar sejarah yang dibantah oleh Syed Naguib Al-Attas itu juga terjadi dalam proses pengislaman masyarakat Nusantara sebagai faktor yang memiliki pengaruh tersendiri juga.

Berbicara tentang tarikh-tarikh penting masuknya Islam di Alam Melayu, sejumlah sarjana bersetuju bahwa Islam sudah datang di Nusantara sejak tahun 674 M—sudah terdapat sebuah perkampungan Arab-Islam di Pantai Barat Sumatra. Pada tahun 800 M, Aceh telah didatangi para pendakwah Syiah yang dipimpin oleh Nakhoda Khalifah.[2] Menurut catatan Mashudi yang dikutip Syed Naguib Al-Attas (1969) pada tahun 877 M sekitar 120.000 atau 200.000 sudagar dan pedagang Muslim dari Arab dan Persia telah menempati wilayah Khanfu (Kanton). Namun, pada era tersebut terjadi pemberontakan dan pembunuhan secara besar-besaran di Selatan Cina terhadap para petani pada masa kekuasaan dinasti T’ang yang pada waktu itu diperintah kaisar Hi-Tsung pada tahun 878—879 M. Konsekuensi logis dari peristiwa ini menyebabkan terjadi migrasi para saudagar dan pedagang Muslim dari wilayah Cina tersebut dengan mengungsi ke wilayah Kedah di kawasan Semenanjung Melayu. Hal ini menandakan hubungan perdagangan Muslim Kanton dari kekaisaran Cina dengan Kedah. Oleh karena itu, tidak mengherankan terdapat bukti nisan tua yang menunjukkan Islam sudah bertapak di Kedah dengan ditemukannya batu nisan Syeikh Abd.al-Qadir ibn Syeikh Husain Syah Alam di Tanjung Inggeris, Kedah—pada batu nisan tersebut tertera angka tahun 903 sebagai keterangan wafat beliau.

Seterusnya, perkembangan awal Islam di Nusantara semakin jelas pada abad kesebelas dengan ditemukannya bukti batu nisan kepunyaan seorang wanita Islam bernama Fatimah bt. Maimun di Leran, Gresik. Pada nisan tersebut tertera angka tahun 1082. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa agama Islam telah tersebar di daerah itu pada abad kesebelas masehi. Pada perkembangan selanjutnya, jejak awal perkembangan Islam di Nusantara ini dapat dilihat juga melalui penemuan batu nisan Malik Al-Shalih raja Islam pertama dari kerajaan Samudra Pasai—tertera angka tahun 1297 M. Kerajaan Pasai ini dimuslimkan oleh Syekh Ismail yang dikirim oleh Sharif Mekkah untuk menyebarkan Islam di Sumatra bagian utara pada abad ke-13. Keterangan lain yang semakin menguatkan jejak awal perkembangan Islam adalah penemuan prasasti di Terengganu—yang mencatatkan bahwa undang-undang Islam di negeri itu dilaksanakan pada tahun 1303 Masehi (lihat Mahayudin Haji Yahaya 2001:18—19; Ismail Hamid 1990:65—66).

Pada awal abad ke-15 Melaka didirikan oleh Parameswara, seorang anak raja keturunan Sriwijaya yang beragama Hindu. Namun, sekitar tahun 1409 M pemegang kekuasaan di kerajaan Melaka sudah masuk Islam. Melaka semakin jaya sebagai institusi kerajaan Islam dengan adanya hubungan pernikahan antara puteri Pasai dari Kerajaan Samudra Pasai dengan Raja Melaka. Selanjutnya, pada abad inilah ajaran sufi memainkan peran dominan dalam proses Islamisasi untuk wilayah Nusantara. Bahkan, Islam berkembang pesat ke seluruh wilayah kepulauan Nusantara mulai abad ini melalui kesultanan-kesultanan Melayu (lihat Syed Naguib Al-Attas 1969:12).

Di Pulau Kalimantan, catatan tentang Islamisasi dapat dijejaki melalui situs arkeologi yang ditemukan di Ketapang. Berdasarkan penelitiannya Nik Hasan Suhaimi dan Bambang B.U (1998) telah teridentifikasi situs arkeologi yang disebut dengan Situs Benua Lama. Situs Benua Lama merupakan pemukiman dari masa peralihan (akhir Majapahit dan awal Kesultanan Matan). Tinggalan budaya masa lampau yang terdapat di situs tersebut berupa pecahan-pecahan keramik yang berasal dari masa Dinasti Song Yuan abad ke-12—13 Masehi hingga masa Belanda (Kesultanan abad ke-18), pecahan-pecahan tembikar, batu pipisan, dan bata yang merupakan sisa bangunan.

Di sekitar Situs Benua Lama, ditemukan juga makam-makam kuno yang dikenal dengan Makam Keramat Tujuh. Nisan-nisan tersebut mempunyai keunikan pada inskripsinya yang ditulis dalam dua aksara, yaitu Arab dan Jawa. Inskripsi dalam aksara Arab terbaca ayat-ayat singkat dari Alquran sedangkan yang ditulis dalam aksara Jawa kuno terbaca angka tahun tarikh Saka, yaitu 1363 Saka (1441 Masehi), 1340 Saka (1418 Masehi). Satu kilometer dari Situs Benua Lama ditemukan juga kompleks Makam Keramat Sembilan. Makan-makan ini juga menorehkan inskripsi yang beraksara Arab bertuliskan ayat singkat yang dikutip dari Alquran sedangkan yang beraksara Jawa kuno bertuliskan angka tahun dalam tarikh Saka, yaitu 1354 Saka (1432 Masehi), 1360 Saka (1438 Masehi), 1354 Saka (1432 Masehi), dan 1359 Saka (1437 Masehi).

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa Islam sudah jejak di kawasan sekitar Matan pada akhir Abad ke-14 atau awal abad ke-15.  Menurut Syed Naguib Al-Attas (1969:14—15) wilayah Sukadana telah diislamkan oleh pendakwah dari Arab dan Melayu Palembang sedangkan di Banjarmasin telah diislamkan oleh pendakwah dari Demak sekitar abad ke-15. Islamisasi yang menyeluruh di daerah pesisir Kalimantan terjadi pada tahun 1591 M—menandakan seluruh wilayah pesisir Kalimantan telah menjadi Muslim.[3]

Dalam syiar Islam, para pendakwah dengan bijaksana, tanpa disadari menerapkan nilai-nilai Islam ke dalam pemikiran penduduk peribumi dengan pelbagai cara, diantaranya adalah dengan “mengislamkan” tradisi lokal yang hidup dan berkembang dalam masyarakat setempat. Tradisi lisan yang diislamkan itulah dikenal sebagai “tradisi sastra zaman peralihan Hindu-Islam.” Dalam karya-karya tersebut, unsur-unsur Hindu-Budha dicampuradukkan dan disesuaikan dengan Islam. Hal ini berlaku karena tradisi lisan dijadikan alat untuk berdakwah oleh para pendakwah Islam tersebut.[4]

Dalam konteks ini sesungguhnya Islam tidaklah datang untuk sekadar menyesuaikan atau mengharmoniskan Islam dengan kepercayaan-kepercayaan Hindu-Budha dan tradisi otoktoni. Ajaran Islam datang untuk ‘menjelaskan perbedaan’ antara Islam dan agama-agama yang telah dipercayai sebelum Islam pada masyarakat setempat. Terutama dalam memberikan penjelasan-penjelasan mengenai sifat ‘wujud’ dan ‘keadaan’ atau ‘eksistensi’.

Dengan kedatangan Islam, konsep-konsep terpenting yang terbayang dalam kata-kata dan istilah-istilah penting yang terdapat dalam bahasa Melayu mengenai Tuhan, manusia, dan pertaliannya dengan alam semesta—semuanya mengalami penapisan dan penyaringan supaya sesuai dengan istilah-istilah dan kata-kata Arab dalam bidang falsafah dan metafisika. Hal ini juga terjadi pada bahasa Arab sendiri pada zaman penerjemahan, ketika bahasa Arab menjadi bahasa pengantar falsafah Yunani yang dengan sendirinya dipengaruhi oleh pemikiran Yunani (lihat Syed Naguib Al-Attas 1969, 1972). Selanjutnya …

Check Also

Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat IX Tahun 2013

Oleh: MABMonline.org MABMonline.org, Pontianak — Seni Budaya Melayu yang hidup, tumbuh dan berkembang tersebar diseluruh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *