Home / Sastra / Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

Tradisi Lisan: Pintu Masuk Ajaran Islam di Kalimantan Barat

Tradisi Lisan sebagai Pintu Masuk Islam

Islam dipandang oleh masyarakat Nusantara memiliki kekuatan spiritual yang dahsyat secara vertikal dan horizontal. Kekuatan ini dianggap memiliki kesamaan dengan sistem religi atau tradisi lisan masyarakat Nusantara, yang memercayai ritual terhadap kekuatan roh dan hantu. Bahkan, kekuatan roh dianggap mampu menolong dan membawa kebaikan pada kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan dalam ritual–ritual tradisional, roh dan hantu diundang untuk menjadi penyembuh atau pelindung agar si pemilik hajat terlepas dari wabah penyakit atau kesusahan yang sedang dialaminya (lihat Dedy Ari Asfar 2005a).

Dengan kedatangan Islam terjadi revolusi rohaniah terhadap sistem keyakinan dan kepercayaan masyarakat lokal terhadap roh dan makhluk hidup. Perubahan-perubahan alam pemikiran itu berpuncak pada suatu konsepsi mengenai “wujud” yang lain daripada apa yang telah dipahami oleh masyarakat dahulu kala tentang Tuhan, manusia, dan alam sekitar.

Pengaruh Islam dapat dikesan melalui akidah yang menggantikan kepercayaan agama lokal dan Hindu-Budha. Islam memengaruhi pemikiran masyarakat ke taraf yang lebih rasional dan sesuai dengan ajaran Islam. Namun, harus diakui karena pengaruh agama lokal dan Hindu-Budha begitu kuat beberapa amalan tradisional yang non-Islami masih diamalkan masyarakat. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam tradisi Robo’-Robo’ di daerah pesisir dan pedalaman Kalimantan Barat (Dedy Ari Asfar 2002). Contoh lain melalui tradisi lokal dalam bentuk bercerita atau gesah (folk narrative) Melayu di pedalaman Sekadau.

Dalam ritual naratif lisan Melayu di pedalaman Sekadau, si penutur cerita harus mempersiapkan bahan dan perlengkapan sesajian. Setelah semua siap, si penutur dapat memulai pertunjukkan mistiknya. Penutur kemudian berdiri di depan pintu rumah dengan membaca basmalah, salam, dan salawat kepada Rasulullah saw, kemudian membaca “Alhamdulillahirrabbilalamin arrahman nirrahim malikiyaumiddin 2x, Alif lam min. Dzalikal kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqiin. Alladziina yu’minuuna bilghaibi wa yuqiimuunash shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiqun”. Setelah membaca penggalan ayat suci yang diambil dari Alquran ini, si penutur kemudian mengucapkan “Salam kan nabi roh yang ada di alam fana,” Selanjutnya dengan tangkas, si penutur menabur beras kuning di luar rumah—yang dijadikan tempat untuk menuturkan cerita tersebut.[5] Kemudian setelah ritual tadi selesai dilaksanakan, si penutur kembali ke tempat duduknya dan mulai bercerita. Semasa si penutur bercerita, ampu tempurung yang ada di hadapan si penutur harus terus mengeluarkan asap sebagai simbolisme mengundang dan memberi makan roh—asap yang dikeluarkan tadi merupakan hasil dari sebuah proses pembakaran sesajian yang telah dipersiapkan. Setelah tuturan selesai dilakukan, ditutup dengan sesajian penutup (nulang penutup), yang terdiri atas ayam panggang satu ekor, nasi kuning ketan dimasak, kain kuning, dan ditutup dengan pembacaan Doa Rasul (lihat Dedy Ari Asfar 2005b)

Ritual dalam pertuturan naratif lisan ini menunjukkan kepada kita adanya akulturasi unsur-unsur pra-Islam dan Islam. Akulturasi seperti ini memang sesuatu yang wajar karena pada zaman pra-Islam, tradisi lisan kuno berkaitan erat dengan upacara-upacara magis. Kedatangan Islam membawa pembaruan yang bermakna dalam tradisi lisan masyarakat Melayu. Segala bentuk pengucapan atau mantra yang ada dalam tradisi lisan masyarakat Nusantara coba diislamkan oleh para mubalig Islam pada zaman itu dengan pendekatan-pendekatan sufisme dan dengan cara-cara yang sangat menarik simpati masyarakat peribumi. Mereka tidak serta merta menghapuskan atau mengubah tradisi lokal tersebut menjadi benar menurut perspektif syariah Islam. Dalam konteks ini, ajaran Islam berusaha mengakomodasi sistem nilai dan kepercayaan lokal yang telah hidup mapan dalam masyarakat lokal. Namun, perlu digarisbawahi ajaran tasawuf lebih mengedepankan rasionalisme dan intelektualisme dan membawa pembaruan dalam pemikiran bukan sekadar ritual estetik seni bak agama/tradisi lokal masyarakat.

Ada kalanya dalam proses Islamisasi, seorang pendakwah dituntut juga untuk membuktikan kekuatan agamanya dengan melakukan penyembuhan pelbagai penyakit. Pada tahap ini, Islam seolah-olah juga menawarkan solusi dengan memperkenalkan kalimat-kalimat berbahasa Arab. Tidak jarang segelas air putih menjadi penawar atau penyembuh dengan memanfaatkan bacaan-bacaan Qurani. Banyak pula kalimat-kalimat dari bahasa Arab dan Quran dimasukkan dalam setiap upacara ritual (lihat Dedy Ari Asfar 2004). Bahkan, kalimat-kalimat doa bahasa Arab sejak tahun 1600 telah menjadi kalimat-kalimat baku dalam bahasa Melayu (Houtman dalam Reid 1999:209). Oleh karena itu, Islamisasi yang menekankan penyakit dan pengobatannya bukanlah sesuatu yang asing karena banyak kasus terjadi berdasarkan fenomena ini. Misalnya, Raja Patani menurut hikayatnya menjadi Islam sebagai akibat dari kekuatan penyembuhan yang dimiliki seorang syekh dari Pasai (Sumatra). Sang raja menderita suatu penyakit parah yang menyebabkan kulitnya pecah-pecah dan tidak bisa disembuhkan oleh para dukun tradisional. Pada saat yang sama doa sang syekh kepada Tuhannya membuat sang raja sembuh sekaligus membuka mata hati sang raja untuk memeluk Islam.

Kenyataan-kenyataan yang menunjukkan bukti Islam dan sifat magis yang terkandung dalam nada-nada ilahi Quran menjadi pintu masuk berkembangnya Islam pada masyarakat pedalaman yang masih kental dengan kepercayaan dan keyakinan bersifat lokal. Fenomena pemanfaatan tradisi lisan sebagai pintu masuk ajaran Islam di Kalimantan Barat terbukti melalui hasil kajian yang telah dilakukan oleh Hermansyah (2001, 2006) dan Dedy Ari Asfar (2004, 2005). Selain itu, para pendakwah memanfaatkan mantra sebagai medium pengislaman masyarakat Kalimantan Barat dengan menggunakan kalimat syahadat diakhir mantra. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa si pengamal mantra ini masuk Islam karena melafalkan syahadat melalui mantra yang dibacanya. Perhatikan contoh mantra berikut. Selanjutnya…

Check Also

Festival Seni Budaya Melayu Kalimantan Barat IX Tahun 2013

Oleh: MABMonline.org MABMonline.org, Pontianak — Seni Budaya Melayu yang hidup, tumbuh dan berkembang tersebar diseluruh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *