Home / Jurnalisme Warga / Tragedi Siang

Tragedi Siang

Oleh Siti Munawwarah

MABM0nline, Pontianak –Kisah ini terjadi kira-kira setahun yang lalu. Cerita yang tetap
membekas di ingatan Kholil, remaja laki-laki yang berusia sekitar 15 tahun.
Cerita yang membawa luka sendiri. Anak kecil yang jadi korban “keprimitifan
masyarakat” di tengah kehidupan modern. Cerita ini terjadi di daerah yang orang-
orang pandang negatif. Daerah yang bagi kebanyakan orang adalah tempat
bagi penjahat, penjual narkoba, dan anak-anak berandal. Namun, janganlah
berspekulasi negatif dulu kehidupan tidak seperti yang kita banyangkan.

Siang itu tak pernah terkira akan jadi hari yang “istimewa” bagi Kholil dan
teman-temanya. Anak-anak yang rutinitas hariannya bermain ke warnet atau
pergi bermain ke rumah temannya ini tidak menyangka bahwa hari itu akan jadi
hari sial bagi mereka. Kholil adalah siswa SMP di Pontianak tepatnya SMP N
4 Pontianak setahun yang lalu, sekarang ia bersekolah di SMA N 6 Pontianak.

Bocah laki-laki yang telah kehilangan Ibunya semenjak kecil ini sehari-harinya
menghabiskan waktu untuk bersekolah dan bermain saja. Siang itu, sekitar
pukul 13.00 Kholil dan beberapa temannya pergi ke rumah Aziz. Bocah laki-
laki berperawakan kurus dengan kulit hitam ini dengan santainya mendatangi
rumah temannya itu. Kebetulan si pemilik rumah sedang tidak ada di tempat.

Segerombolan anak kecil inipun menunggu di teras rumah sambil memanjati
pohon belimbing milik Azis. Tidak beberapa lama kemudian, datanglah anak kecil
berumur 5 tahun menghampiri mereka “Bang minta belimbing satu,” teriak Anis.
Bocah laki-laki ini merupakan tetangga Azis yang tiap harinya memang suka makan belimbing.
Bocah tambun ini pun ikut bermain dengan Kholil dan beberapa teman lainnya.
Saat asyik bermain Anis dipanggil Ibunya untuk tidur siang, karena takut bocah
lucu ini pun langsung pulang.

Sesaat kemudian datanglah si pemilik rumah. Sekumpulan anak tanggung ini pun
langsung mengajak Azis ke warnet untuk bermain game online. Namun ajakan
Kholil dan teman-temannya ini ditolak Azis, ia tidak kuasa untuk keluar karena
hari sedang panas-panasnya. Gerombolan remaja tanggung tadi pun akhirnya ke
warnet walaupun satu temannya tidak ikut.

Satu jam kemudian, rumah tetangga Azis ribut. Bocah kecil bertubuh gemuk tadi
sedang dimarahi ayahnya. “Di mane nis kau tarok hp tu?, sergah bang Mat yang
merupakan ayah kandung Anis. Anak kecil itu hanya menangis, ia mengatakan
bahwa tadi ia membawa hp itu ke rumah Azis dan lupa di mana menaruhnya.
“Tadi kamek tarok di paser pak waktu ngambek belimbing”, ucap anak ini dengan
polosnya.
Tanpa berpikir panjang Bang Mat langsung menanyai Azis tentang keberadaan
hp tersebut. Azis yang tidak tahu menahu hanya bicara seadanya, “Dak tau, aku
baru datang”, jawab anak ini tanpa beban. Kecurigaan pun langsung tertuju pada
segerombolan anak kecil tadi. Bang Mat langsung memacu motornya mencari
anak-anak tadi. Pikirannya tertuju pada anak-anak tadi dengan bengisnya.

Kepalanya yang ditutupi api emosi mengebut motornya dengan kecepatan tinggi.
Panas hatinya lebih membara daripada teriknya siang itu.
Setelah memutari daerah Pontianak Timur, Bang Mat datang dengan membawa
seorang bocah laki-laki. Bocah itu diseretnya dengan tangannya yang gemuk.
Ditariknya baju anak kecil itu sampai sedikit tercekik. Semua tetangga keluar
rumah melihat kejadian itu. Bang Mat langsung menghujani anak kecil itu
dengan pertanyaan. Hp tadi sudah ditangan Bang Mat, kulitnya yang hitam makin
mengkilat menambah hawa seram di mukanya. Kholil pasrah diseret, dipukuli,
dan ditampar berkali-kali. Bocah malang itu disuruh mengaku bahwa dialah yang
mencuri hp Bang Mat. “Ngaku jak dek daripada kau dipukul,” sahut ibu-ibu
yang sedang menonton kejadian itu. “Kau ni ye, jangan kau maen di daerah ini
agik,” bentak Bang Mat sambil melayangkan tempeleng ke muka Kholil. Anak
itu terus dihakimi. Dimasukkan ke dalam got, ditampar dan ditampar lagi. Tidak
puas dihajar Bang Mat, salah satu pemuda yang melihat kejadian tersebut ikut
memukuli dan memaksa anak itu untuk mengaku. Peristiwa yang mengiris hati
ini saya lihat sendiri. Tidak ada yang membela anak malang itu. Panas siang itu
adalah panas yang sebenar-benarnya. Kholil hanya menjawab “Saye dak tau bang,
benar-benar dak tau,” jawab anak itu sambil menggigil kesakitan.

Teman-temannya tadi pun datang bersama Ayah Kholil. Melihat anaknya
diperlakukan seperti itu, Ayahnya langsung bertanya pada Bang Mat. “Anak saye
salah ape? Kalo benar-benar salah boleh lah abang ginikan tapi kalo anak saye
dak tau ape-ape saye dak terima ni, anak saye ni minta ape jak selalu saye kasik.
Bang Mat pun menjelaskan kalau anaknya itu bersama teman-temannya mencuri
hanphone nya. Kholil menjawab, “benar pak, dak ad.” Tamparan langsung
melayang di pipinya yang kurus. Anak ini sudah tidak tahu mau berkata apa-apa
lagi.

Sopan langsung menjelaskan, bahwa sebenarnya mereka tidak mencuri hp itu.
Mereka tidak tahu menahu mengenai pemilik hp itu. Mereka juga tidak tahu
bahwa Anis anak Bang Mat tadi membawa hp waktu mereka bermain bersama.
Sopan menemukan hp itu saat ia akan pulang dari rumah Azis, ia melihat hp itu
di atas pasir lalu memungutnya karena mengira tidak ada pemiliknya. “Aku liat
hp tu di paser, dak tau punye siape jadi aku ambek,” ucap Sopan dengan nada
ketakutan. Kepolosan anak-anak ini membawa mereka ke nasib yang kurang baik.
Mereka tetap dituduh mencuri hp itu. Selanjutnya anak-anak ini tidak lagi terlihat
bermain di rumah Azis. Dalam setiap hati mereka mengutuk apa yang orang-
orang dewasa itu lakukan. Azis sendiri sebagai teman mereka menjadi benci
sekali kepada tetangganya itu. “Ada balasannya nanti,” kata-kata inilah yang
mereka semua amini atas apa yang menimpa teman mereka.

Check Also

Budaya Korea “Meledak” di Indonesia

Oleh : Ahmad Yani MABMonline.org, Pontianak — Pada era globalisasi saat ini faktor budaya merupakan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *