Home / Beranda / Wisata Akademik dan Budaya ke ‘Surga Bawah Laut’ Wakatobi

Wisata Akademik dan Budaya ke ‘Surga Bawah Laut’ Wakatobi

Rasa kesal dan sedih sedikit terobati, tanggal 2 Desember 2008 kami berangkat ke Pulau Hoga dengan menggunakan Kapal Motor Minomi milik WWF yang ada di Wakatobi. ”Judul” wisata ini adalah bermakalah di kapal sambil ke Pulau Hoga. Sebelum berangkat kami harus mengisi dan menandatangan lembaran kertas yang berisikan surat pernyataan risiko yang mungkin dapat terjadi ketika menyelam scuba dan snorkling di perairan sekitar Pulau Hoga. Awak Kapal Motor Minomi tidak bertanggung jawab kalau saja ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi berkenaan dengan aktivitas kami di Pulau Hoga. Pak Udin, petugas WWF yang mengedarkan dan menjelaskan masalah penandatangan surat pernyataan ini berjalan menyerahkan lembar demi lembar kepada setiap orang yang ada di Kapal Motor Minomi.

Setelah menandatangani surat pernyataan, kami tidak langsung berangkat. Kami harus menunggu Pak Udin menyelesaikan segala administrasinya dengan pihak syahbandar Pelabuhan Pulau Wangi-Wangi. Beberapa orang sudah risau sambil bertanya kapan harus berangkat. Satu jam sudah berlalu, tetapi kami belum juga dapat kabar akan segera berangkat.

Bu Teti melihat kerisauan penumpang Minomi, ia berusaha menjelaskan kepada kami mengapa tidak berangkat-berangkat.

”Kita kelebihan penumpang. Pelampung keselamatan yang ada itu 30 buah sedangkan yang ikut di kapal ini 40 orang. Pihak syahbandar berat hati mau mengijinkan KM Minomi berangkat”

”Oh, begitu toh,” seru salah satu penumpang.

”Alot juga minta izinnya, tapi tidak apa-apa,” kata Bu Teti.

”Asal yang sepuluh orang bersedia tanpa pelampung keselamatan tidak apa-apa, tapi pihak syahbandar tidak bertanggung jawab,” jelas Bu Teti kepada kami.

Orang-orang menatap satu sama lain, ada juga yang mengangguk-anggukan kepala.

Akhirnya, sekitar pukul 11.28 Wita kami meninggalkan pelabuhan. Di KM Minomi beberapa pembicara Seminar Tradisi Lisan Nusantara membentangkan makalahnya. Ada dua sesi pembentangan makalah di KM Minomi. Berwisata mengarungi Lautan Sulawesi sambil bermakalah di atas KM Minomi. Asyik dan aneh juga rasanya sebab belum pernah ada pengalamanku dalam situasi seperti ini.

Sekitar pukul 15.22 Wita kami tiba di Pulau Hoga. Kapal Motor Minomi tidak bisa merapat ke dermaga karena air laut dangkal. Untuk ke pantai, kami diangkut speedboat yang berkapasitas 10 penumpang.

”Wah, indahnya pemandangan sekitar pulau ini,” kataku pada salah satu awak Minomi.

”Di depan Pulau Hoga itu Pulau Kaledupa, di belakang Kaledupa itu Pulau Tomia,” jelas awak kapal yang belum sempat kutanya namanya.

Setiba di daratan Pulau Hoga, beberapa diantara kami ada yang beristirahat di pondokan-pondokan kecil. Ada yang minum teh dan kopi di sebuah resort. Ada juga yang berganti pakaian lalu berenang dan menyelam menikmati pemandangan bawah laut Pulau Hoga. Setelah beberapa jam, kami lalu bergegas kembali ke Kapal Motor Minomi. Sekitar pukul 17.54 Wita kapal yang kami tumpangi meninggalkan perairan pantai Pulau Hoga menuju Pulau Wangi-Wangi tempat kami menginap.

Selama di atas kapal orang-orang pada mengabadikan suasana sore terbenamnya matahari di atas Kapal Motor Minomi. Kapal motor yang berarsitekturkan kapal khas Sulawesi (Pinisi). Selang 20 menit kemudian kami makan malam di atas kapal. Ada ikan tongkol yang dimasak sayur. Ada sayur kacang oseng, ada sambal, dan ada kerupuk. Jeruk manis sebagai pencuci mulut. Maknyus! Maklum orang lapar, makan apa saja pasti enak.

Setelah selesai makan malam, aku dan beberapa orang naik ke dek atas kapal menikmati angin malam nansepoi-sepoi seolah-olah mengajak bercumbu. Lama-lama aku terlelap juga tidur di kasur empuk di lantai dek atas KM Minomi. Aku tidak sendiri, beberapa orang juga tidur. Ada yang di kursi panjang. Beberapa juga terus mengobrol. Aku terbangun setelah tidur, entah berapa lama aku tertidur. Sayup-sayup kudengar pembicaraan antara Mas Kenedi dan Pak Mahyudin Al-Mudra.

”Penginapan di Wakatobi nurut internet bagus,” kata Mas Kenedi.

”Ekspektasi kita tinggi,” sahut Pak Mahyudin.

”Nggak ada AC, TV, Kipas, air pun suka ngak ngalir,” ujar Mas Kenedi.

”Iya sama dengan kamar saya” Pak Mahyudin pun membalas.

”Lebih lucu lagi ceritanya Pak Bambang Kaswanti Purwo. Aku sih yang penting ada AC kata Pak Bambang, eh sekali masuk kamar semuanya pada ngak bener. Kamarnya berbentuk kotak dan ngak ada lampu, gelap lagi,” cerita Pak Mahyudin kepada Mas Ken.

Wah masih beruntung aku dan Bang Al-Azhar. Kami menginap di Hotel Lina. Fasilitasnya ada AC dan TV, kamar lumayan bagus. Toiletnya kecil. Bahkan, biaya per malamnya tidak terlalu mahal. Kamar dengan AC dan TV Rp132.000,00 atau ada kamar ber-AC tetapi takada TV Rp 110.000,00. Air memang kadang tidak mengalir saat aku atau Al-Azhar sedang mandi. Malam lebih sering air tiba-tiba berhenti mengalir. Kami tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk semua fasilitas penginapan karena ditanggung Pemkab Wakatobi. Mau mengeluh kepada siapa? Mungkin sudah begitu keadaan dan pelayanan akomodasi yang tersedia di Pulau Wangi-Wangi, ibukota Kabupaten Wakatobi.

Lagi-lagi, kudengar dua praktisi media ini terus berbicara. Mereka berargumen perlunya transformasi tradisi lisan Nusantara ke dalam game dan internet. Aku setuju dengan ide ini!

Aku bangun, kulihat dari atas Minomi cahaya lampu dikejauhan. Rupa-rupanya kami sudah sampai di Pulau Wangi-Wangi (Wanci).  Kulihat jam sekitar pukul 22.00 Wita. Kami tidak menuju ke dermaga tapi berlabuh di tepi pantai Pulau Wangi-Wangi persis di belakang Hotel Wakatobi. Kami diangkut dengan speedboat lagi menuju daratan.

Aku dan Al-Azhar menuju penginapan dengan mobil jemputan yang sudah stand by. Setiba di kamar aku langsung mandi dan tidur. Kulihat Bang Al-Azhar sudah duluan. Mataku mulai kupejamkan, tetapi aku masih mengingat-ingat Pulau Hoga. Banyak kawan-kawan peserta yang turut ke Pulau Hoga menyelam dan mandi di pantai pulau ini. Pulau Hoga cukup strategis karena di depannya tampak Pulau Kaledupa. Laut dangkalnya ditepian pantai memanjakan mata. Ikan dan biota laut Pantai Hoga terlihat indah. Walaupun, aku sendiri tidak menyelam dan mandi di Pantai Hoga ini. Tetapi, pemandangan biota laut Pantai Hoga tampak nyata di mata. Zzzseessst zzzz buzz buzzz aku terbuai dalam mimpi.

Rumusan Rekomendasi Seminar

Malam tanggal 3 Desember 2008 acara penutupan Kegiatan Lisan VI, Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan Nusantara di Wakatobi, Sulawesi Tenggara sungguh sangat meriah. Di Lapangan Merdeka Wakatobi, acara berlangsung riuh. Lapangan dipadati masyarakat untuk mengikuti proses penutupan. Ada artis ibukota dari Jakarta. Jalanan aspal sekeliling Lapangan Merdeka pun padat dengan penduduk Wakatobi. Penutupan diramaikan dengan pagelaran seni budaya dari berbagai daerah yang ada di Wakatobi.

Di sela hiruk pikuk panggung, kudengar Pak La Niampe, panitia daerah yang juga Ketua ATL Sulawesi Tenggara  menyampaikan hasil rumusan rekomendasi seminar yang telah berlangsung beberapa hari ini. Ada sepuluh rekomendasi yang dirumuskan oleh tim perumus yang dibacakan Pak La Niampe. Di antara hasil rumusan rekomendasi seminar tersebut adalah ”Pemberdayaan dan pengembangan tradisi lisan baik melalui tulisan dan multimedia maupun ekonomi kreatif harus diimbangi penguatan komunitasnya”; ”Perlu perumusan kembali sejarah lokal dengan memanfaatkan sumber tradisi lisan dan tulisan. Terutama untuk menggali kearifan lokal sebagai bahan pembelajaran budaya di dunia pendidikan sangat penting dilakukan”; ”Pengembangan, pemaknaan, dan implementasi dalam program dan kegiatan tradisi lisan maritim perlu ditingkatkan sebagai salah satu kekuatan bangsa yang dapat diakses secara nasional dan internasional”; ”Diaspora budaya diarahkan sebagai perekat identitas untuk mewujudkan wawasan nasionalisme dan keindonesiaan”; ”Pemerintah daerah diharapkan membuat peraturan daerah bagi pemberdayaan, penguatan, dan pengembangan tradisi lisan. Yang tidak kalah pentingnya, tradisi lisan memerlukan manajemen yang profesional dan berbasis kemasyarakatan”; ”Perlunya pemberdayaan berdasar pada asas maknawi, manfaat, dan relevansi terhadap nilai kehidupan masyarakat yang terbuka, arif, dan dinamis terhadap tradisi lisan di Wakatobi. ”Menyangkut ketahanan budaya, rekomendasi menyebutkan diperlukan kebijakan ketahanan budaya dan ekoturisme di seluruh wilayah Indonesia dengan mempertimbangkan nilai-nilai lokal” demikianlah suara Pak La Niampe dosen Universitas Haluoleo dalam membacakan hasil rekomendasi tim perumus Kegiatan Lisan VI membahana diantara hiruk pikuk ratusan penonton yang memadati jalanan dan Lapangan Merdeka Wakatobi.

Mengunjungi Kampung Bajo

4 Desember 2008, aku sangat penasaran ingin melihat perkampungan orang Bajo di Wakatobi. Hal ini terinspirasi dari cerita Prof. Sardono, Rektor IKJ yang sudah terlebih dahulu mengunjungi perkampungan Bajo. Beliau sangat terkesan dengan pola hidup dan tata ruang perkampungan Bajo. Aku, Al-Azhar, Prof. Sardono, dan dua remaja Wakatobi berbincang-bincang sembari makan malam pada tanggal 3 Desember 2008 di sebuah restoran tepi pantai yang persis terletak di belakang Hotel Wakatobi.

”Bayangin aja, orang Bajo itu hidup di laut, tata ruang rumah-rumah mereka sangat unik, dan mereka memiliki pekarangan atau taman yang mereka manfaatkan di sekitar rumah untuk memelihara ikan. Sama saja dengan kehidupan kita di darat. Kita memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanami pohon, bunga, dan sayur-mayur maka orang Bajo pun memanfaatkan pekarangan rumah (laut) sebagai tempat memelihara berbagai jenis ikan,” kata Prof. Sardono menunjukkan ekspresi kekagumannya.

Malam itu aku dan Al-Azhar mendengar dan mengomentari cerita Mas Don (Prof. Sardono) tentang orang Bajo. Aku sangat penasaran. Aku harus lihat dan mengunjungi kampung Bajo. Aku berbicara sendiri dalam hati.

Aku lalu berinisiatif mengajak seorang teman untuk berkunjung ke sebuah kampung Bajo. Pertama kuajak Mas Henri Nurcahyo, seorang budayawan dan penggiat media massa online dari Surabaya untuk mengunjungi kampung Bajo.

”Wah, saya sudah pergi kemarin. Dekat kok dari sini. Jalan aja ngak sampe 30 menit udah sampai,” seru Mas Henri.

Karena Mas Henri sudah pergi ke kampung Bajo, aku pun lalu berlalu mencari teman yang belum pergi. Kulihat Pak Supardi di depan pintu masuk lobi Kantor Bupati Wakatobi tempat kami biasa sarapan. Kuceritakan pengalaman Prof. Sardono kepada Pak Supardi, seorang freelancer berbagai media massa di Jakarta ini untuk mengunjungi perkampungan Bajo yang berada di sekitar Pulau Wangi-Wangi.

”Oke, saya mau. Ayo kita ke sana,” seru Pak Supardi bersemangat. Kami pun lalu bertanya kepada tukang ojek mengenai keberadaan masyarakat Bajo di sekitar Pulau Wangi-Wangi.

”Bapak mau pergi ke kampung Bajo yang mana?” kata Nurhamid seorang tukang ojek yang kutanyai.

”Saya juga tidak tahu yang mana. Kita pergi ke kampung Bajo yang tidak perlu terlalu jauh dari sini, yang dekat-dekat aja,” kataku.

”Ayo naik Pak,” seru Nurhamid.

”Oke, tapi satu motor lagi untuk teman saya,” kataku.

”Naik motor saya saja,” kata seorang tukang ojek yang ada di situ yang dari tadi memperhatikan pembicaraan kami.

Kami pun berangkat menuju kampung Bajo yang tidak terlalu jauh dari Kantor Bupati Wakatobi. Mereka mengantar kami ke sebuah kampung Bajo yang berada di dekat Pelabuhan Mola. Kampung ini adalah Desa Samaturu, secara administratif masuk wilayah Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Setibanya di kampung itu, kulihat beberapa orang sedang asyik memperbaiki jaring atau dalam bahasa Kalimantan pukat. Ada juga yang sedang memperbaiki rumahnya. Kulihat ada tumpukan batu karang di halaman rumah penduduk. Mungkin ini batu karang hasil tambang secara tradisional yang diambil dari laut.

Kampung tepi pantai ini juga memiliki sungai kecil yang membelah perkampungan (rumah) menjadi dua sisi, yaitu sisi kiri dan kanan. Sungai ini Mirip Parit Tokaya atau parit-parit gang di Sungai Jawi, Pontianak. Akan tetapi, pada sisi sebelah kiri rata-rata menjadi tempat pelataran dan dapur rumah penduduk sedangkan bagian kanan merupakan halaman depan rumah penduduk Samaturu. Sungai kecil itu menjadi ”tol” buat perahu-perahu mereka masuk dan bertambat di depan atau belakang rumah. Kulihat dua orang perempuan mengayuh sampan memasuki parit dengan membawa karung-karung berisi pasir. Mereka mungkin menuju ke rumah.

Kulihat beberapa orang sedang berkumpul. Kudekati dan kami pun berkenalan. Ada Pak Tute, Ciong, Aseng, Judar, dan Cik. Kami mengobrol di tepian pantai yang kebetulan ada keramba jaringnya. Keramba jaring ini ada ikan Mubara, Kerapu, Napoleon, dan sebagainya. Ikan-ikan kecil yang berkeliaran di tepi-tepi pantai dan parit diambil sebagai umpan ikan dalam keramba jaring tersebut.

”Mengapa Bapak-Bapak tidak melaut,” ujarku.

”Wah, ongkos ke laut mahal sekarang Pak,” kata Pak Aseng.

”Emangnya pakai minyak apa ke laut?”

”Biasanya kami pakai minyak tanah 40 liter dan oli mediteran 1 liter sekali melaut,” sahut Pak Judar.

”Berapa duit?”

”Sekali berangkat sekitar Rp600.000,00” sahut Pak Aceng.

”Mahal juga ya,” responku.

”Pemerintah tidak bantu usaha keramba penduduk sini”

”Dengar-dengar ada tapi kami tidak pernah dapat” jelas Pak Tute

”Pernah ada dari dinas perikanan katanya, mereka ambil foto keramba yang milik pribadi bukan bantuan pemerintah,” jelas Pak Aseng.

”Mungkin bantuan sudah diberikan ke masyarakat lalu mereka ambil foto sebagai laporan. Kami tidak pernah dapat bantuan,” kata Pak Aseng lagi.

”Wah, kacau juga ya kalau begitu,” kataku.

”Itu di dekat perahu sebelah sana, ada keramba besar penampung ikan dibuat dari batu karang,” Pak Judar menunjukkan tanggannya ke arah sebelah kiri saat kami menghadap laut. ”Keramba itu banyak ikannya,” jelas Pak Judar. Aku hanya mengangguk-angguk.

”Oh ya, itu di depan kita pulau apa Pak,” tanyaku.

”Yang di depan kita Pulau Kolo, itu yang sebelah kanan Pulau Tapota,” sahut Pak Judar.

Aku memotret mereka dan pemandangan sekitar kampung Samaturu. Setelah puas berbincang, aku dan Pak Supardi meninggalkan kampung ini. Aku pun keluar kampung melalui gang sempit menuju jalanan Pelabuhan Mola. Aku berjalan menyisiri kampung bersama Hamid sang tukang ojek, dan Pak Supardi menuju tempat sepeda motor diparkir.

Hamid dengan sigap mengendarai motor menuju Aula Kantor Bupati, tempat awal keberangkatan kami tadi. Di perjalanan Hamid banyak bercerita tentang situasi sosial dan budaya masyarakat Wakatobi. Kata Hamid, dalam satu rumah, orang Bajo bisa terdiri atas 5—6 KK.

”Baru 15 tahun terakhir ini mereka mulai sekolah,” jelas Hamid.

”Berarti banyak orang Bajo yang tidak sekolah,” kataku.

”Ya. Mereka kan tidak menetap, pindah-pindah tempat dari satu pulau ke pulau yang lain. Akhir-akhir ini sudah tidak lagi. Sudah banyak penyuluhan. Mereka sudah sadar untuk menetap dan sekolah,” kata Hamid.

”Mereka sudah berani menyuarakan hak-hak mereka kepada pemerintah. Kami mendukung orang-orang Bajo yang berdemo karena dilarang pemerintah mengambil pasir dan batu karang,” Hamid tambah semangat bercerita.

”Mereka punya banyak anak. Pemkab larang-larang harus ada solusi,” seru Hamid memprotes Pemkab Wakatobi melarang orang Bajo mengambil batu karang.

Tak terasa kami sudah memasuki halaman Aula Kantor Bupati. Kami sampai kembali ke tempat asal.

Setelah mengunjungi perkampungan Bajo. Aku, Pak Supardi, Mas Hendri Nur Cahyo, seorang dosen Unhas, dan tiga orang mahasiswa pergi jalan-jalan seputar Pulau Wangi-Wangi. Dengan mengendarai dua mobil Avanza, kami pergi mengunjungi sebuah masjid bawah air. Maksudnya masjid yang berdiri di atas gorong-gorong batu, yang di bawahnya mengalir air. Kami juga mengunjungi pantai di Patunu. Sebuah pantai yang cukup indah. Di Pantai Patunu ini ada rumah panggung yang sedang dibangun. Rumah ini katanya akan menjadi vila peristirahatan Bupati Wakatobi Pak Hugua. Jarak Pantai Patunu dari Kantor Bupati sekitar setengah jam perjalanan. Setelah selesai menikmati pemandangan dan pasir putih Pantai Patunu, kami pun bergegas meninggalkan lokasi menuju kapal ekspres yang akan membawa rombongan yang berpartisipasi dalam Kegiatan Lisan VI menuju Kendari. Siap-siap dihempas dan dicumbu ombak Laut Sulawesi lagi… duh enak!

Check Also

Dana Terbatas, Warga Pelai Tetap Peringati Kemerdekaan

Oleh : Achmad Sofian MABMonline.org, Semparuk,  “Ayo yang jaoh merapat! Siape yang mao ikot lombe …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *